Asbestos is a mineral fiber. It can be positively identified only with a special type of microscope. There are several types of asbestos fibers. In the past, asbestos was added to a variety of products to strengthen them and to provide heat insulation and fire resistance.
Most products made today do not contain asbestos. Those few products made which still contain asbestos that could be inhaled are required to be labeled as such. However, until the 1970s, many types of building products and insulation materials used in homes contained asbestos. Common products that might have contained asbestos in the past, and conditions which may release fibers, include:
-STEAM PIPES, BOILERS, and FURNACE DUCTS insulated with an asbestos blanket or asbestos paper tape. These materials may release asbestos fibers if damaged, repaired, or removed improperly.
-RESILIENT FLOOR TILES (vinyl asbestos, asphalt, and rubber), the backing on VINYL SHEET FLOORING, and ADHESIVES used for installing floor tile. Sanding tiles can release fibers. So may scraping or sanding the backing of sheet flooring during removal.
-CEMENT SHEET, MILLBOARD, and PAPER used as insulation around furnaces and woodburning stoves. Repairing or removing appliances may release asbestos fibers. So may cutting, tearing, sanding, drilling or sawing insulation.
-DOOR GASKETS in furnaces, wood stoves, and coal stoves. Worn seals can release asbestos fibers during use.
-SOUNDPROOFING OR DECORATIVE MATERIAL sprayed on walls and ceilings. Loose, crumbly, or water-damaged material may release fibers. So will sanding, drilling or scraping the material.
-PATCHING AND JOINT COMPOUNDS for walls and ceilings, and TEXTURED PAINTS. Sanding, scraping, or drilling these surfaces may release asbestos.
-ASBESTOS CEMENT ROOFING, SHINGLES, and SIDING. These products are not likely to release asbestos fibers unless sawed, drilled or cut.
-ARTIFICIAL ASHES AND EMBERS sold for use in gas-fired fireplaces. Also, other older household products such as FIREPROOF GLOVES, STOVE-TOP PADS, IRONING BOARD COVERS, and certain HAIRDRYERS.
From studies of people who were exposed to asbestos in factories and shipyards, we know that breathing high levels of asbestos fibers can lead to an increased risk of:
-lung cancer;
-mesothelioma, a cancer of the lining of the chest and the abdominal cavity; and
-asbestosis, in which the lungs become scarred with fibrous tissue.
The risk of lung cancer and mesothelioma increases with the number of fibers inhaled. The risk of lung cancer from inhaling asbestos fibers is also greater if you smoke. People who get asbestosis have usually been exposed to high levels of asbestos for a long time. The symptoms of these diseases do not usually appear until about 20 to 30 years after the first exposure to asbestos.
Most people exposed to small amounts of asbestos, as we all are in our daily lives, do not develop these health problems. However, if disturbed, asbestos material may release asbestos fibers, which can be inhaled into the lungs. The fibers can remain there for a long time, increasing the risk of disease. Asbestos material that would crumble easily if handled, or that has been sawed, scraped, or sanded into a powder, is more likely to create a health hazard.
Asbestosis is a breathing disorder caused by inhaling asbestos fibers. Prolonged accumulation of these fibers in your lungs can lead to scarring of lung tissue and diminished breathing capacity. Signs and symptoms of asbestosis usually don't appear until years after exposure. But once apparent, the condition often worsens and can lead to disability and even death if exposure to asbestos continues.
The effects of long-term exposure to asbestos typically don't show up for at least 20 to 30 years after initial exposure. Signs and symptoms develop when damage and scarring caused by the asbestos fibers lead to stiffness in your lung tissue so that your lungs can't contract and expand normally (a form of pulmonary fibrosis). Once exposure to asbestos is stopped, however, the fibrosis does not progress.
Some asbestosis symptoms include:
-Shortness of breath, initially only with exertion, but eventually even while resting
-Decreased tolerance for physical activity
-Coughing
-Chest pain
-Finger clubbing in some cases
Although most of these signs and symptoms are similar to those of other breathing disorders, such as asthma, the way in which they develop is different. In asbestosis the effects of the disease are insidious, occurring over months and years.
Because asbestos occurs naturally in the environment, everyone breathes in a certain amount of asbestos fibers. Usually, these are expelled before they reach the deeper areas of your lungs, but even if they do, a few fibers won't create signs and symptoms of asbestosis.
People most at risk of developing asbestosis are those who've had at least 10 years of moderate to severe exposure to asbestos, such as workers who were involved in the mining, milling, manufacturing or installation of asbestos products.
Brief exposure to asbestos a few times in your life won't cause harm. However, it's always best to avoid direct exposure. If you're about to remodel an older house, for example, you may wish to hire a professional to determine if asbestos is present. He or she can safely sample a suspected asbestos product and help you decide on the best way to proceed. Even if no asbestos can be detected, it's best to wear appropriate face masks and other protective gear when working with do-it-yourself projects, to keep you from inhaling dust, chemicals and other foreign particles.
Removal of asbestos products is generally considered a major project. If you decide to have it done, seek the help of a professional.
If you have a history of exposure to asbestos and you're experiencing increasing shortness of breath, talk to your doctor about the possibility of asbestosis. If it is asbestosis, your doctor may be able to prescribe treatment to relieve your symptoms. However, it's unlikely that the disease will progress after removal from exposure.
let's share our knowledge,opinion and experiences. May we become better people for ourselves and for people around us.
Condemn Israel!!!!!
Saturday, November 1, 2008
Thursday, October 23, 2008
Sembunyi?
Ada yang pernah bertanya, mengapa saya tidak mendedahkan identity sebenar dalam blog ini. Mengapa mesti sembunyi? Ada banyak jawaban yang boleh saya beri.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata,"Jangan tengok orang yang bercakap, tapi perhatikan apa yang dia cakap". Lebih kurang begitulah. Mohon maaf kalau tersilap.
Maksudnya, tak kiralah siapa yang bercakap, orang kaya kah, miskin kah, berpangkat kah tidak, kalau kandungan kata-katanya berfaedah dan mengandungi nilai kebenaran, maka patutlah kita ikuti.
Bukan saya nak kata apa yang Baginda sampaikan itu tak benar, tapi buat masa ni saya fikir terlalu ramai yang tidak mempedulikan nasihat Baginda itu. Tengok saja dalam realiti. Menteri bercakap pun bukan semua orang nak ikut. Ahli Parlimen bercakap pun bukan semua orang nak dengar. Bahkan, mufti bercakap pun semua orang mau pertikai. Itu dalam hal-hal lisan. Inikan pula dalam bentuk tulisan, blog. Susahlah pula saya nak "pertahankan diri" kalau ada sesiapa yang nak "serang". Walhal apa yang saya sampaikan di sini lebih kepada apa yang saya tahu dan saya faham, serta pendapat dan pandangan pribadi saya semata-mata. Orang nak ikut kah tidak, itu terpulang. Sendiri timbang dengan ilmu, iman dan hati masing-masing.
Kalau ada kebenaran dalam blog ini harap menjadi renungan dan rujukan. Tapi kalau ada silap salah, mohon dimaafkan dan diperbetulkan dengan cara yang baik tentunya. Wallahu'alam.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata,"Jangan tengok orang yang bercakap, tapi perhatikan apa yang dia cakap". Lebih kurang begitulah. Mohon maaf kalau tersilap.
Maksudnya, tak kiralah siapa yang bercakap, orang kaya kah, miskin kah, berpangkat kah tidak, kalau kandungan kata-katanya berfaedah dan mengandungi nilai kebenaran, maka patutlah kita ikuti.
Bukan saya nak kata apa yang Baginda sampaikan itu tak benar, tapi buat masa ni saya fikir terlalu ramai yang tidak mempedulikan nasihat Baginda itu. Tengok saja dalam realiti. Menteri bercakap pun bukan semua orang nak ikut. Ahli Parlimen bercakap pun bukan semua orang nak dengar. Bahkan, mufti bercakap pun semua orang mau pertikai. Itu dalam hal-hal lisan. Inikan pula dalam bentuk tulisan, blog. Susahlah pula saya nak "pertahankan diri" kalau ada sesiapa yang nak "serang". Walhal apa yang saya sampaikan di sini lebih kepada apa yang saya tahu dan saya faham, serta pendapat dan pandangan pribadi saya semata-mata. Orang nak ikut kah tidak, itu terpulang. Sendiri timbang dengan ilmu, iman dan hati masing-masing.
Kalau ada kebenaran dalam blog ini harap menjadi renungan dan rujukan. Tapi kalau ada silap salah, mohon dimaafkan dan diperbetulkan dengan cara yang baik tentunya. Wallahu'alam.
Masalah
Hidup ini pada hakikatnya mesti selalu diselubungi masalah. ada yang berpunca dari orang lain, ada pula yang puncanya adalah diri sendiri. Apapun masalah itu sesungguhnya ianya menjadikan seseorang itu lebih "matang". Itu kalau kita mampu mengambil iktibar darinya. Tapi bagi yang "berhati batu" pula masalah dianggap sesuatu beban yang menjemukan dan pada penghujungnya ia akan merasa kononnya Tuhan berlaku tak adil padanya. Naudzubillah.
Beberapa hari lepas saya mendapat email dari seorang rakan yang juga lecturer di tanah seberang. Tajuknya: mengeluh. Dari email itu saya bersetuju dengan beberapa perkara:
1. manusia adalah insan yang selalu mengeluh. Benda kecil pun dia boleh berkeluh kesah. Cuma bezanya, bagi yang beriman keluhan itu akan terlahir dalam ungkapan dzikrullah baik secara lisan, dengan hati ataupun perbuatan. Bagi yang tak beriman pula, keluhan justru dianggap sebagai subjek untuk bergosip dan menyalahkan pihak lain. Tak terdaya membalas dengan tangan, dengan mulut pun jadilah. Lebih kurang begitulah jadinya.
2. Keluhan sepatutnya menjana kesyukuran. Mengapa? Kerana sebagai insan adakalanya kita terlupa pada sang pencipta. Ingat dikala kita susah tapi melupakan DIA dikala bergelimang kesenangan.
Masalah yang kita hadapi boleh juga merupakan satu kafarah atas dosa-dosa kita. Tak kisahlah dosa apa yang pernah kita lakukan, tapi sesungguhnya masalah menjadikan kita sedar bahwa roda kehidupan tak selalu diatas, sebab adakalanya ia pun di bawah. Ketika berada di atas janganlah kita asyik nak pijak orang. Sebab boleh jadi kesudahannya di satu masa yang lain orang lain pula yang akan "melenyekkan" kita.
Apapun masalah di depan mata hendaklah dicari punca dan jalan penyelesaiannya dengan hati tenang. Ibarat kata pepatah: biar hati panas, kepala tetap dingin". Adakalanya masalah tidak dapat diselesaikan sendiri. Kita perlukan bantuan pihak lain. Tapi ingat bukan semua orang boleh membantu kita. Sebab adakalanya orang yang diharap membantu malah menjadi batu api dan menyemarakkan lagi masalah sedia ada. Carilah orang yang dipercayai keimanannya dan amanah.
Pada akhirnya, sebagai muslim kita mesti kembali kepada Allah. Ia adalah Pencipta kita, tentu Ia lebih tahu dan Maha Tahu segala kesusahan yang kita alami. Kalau kerap meminta pada manusia, tentu pada satu masa ia akan jemu memberi kita. Tapi kalau kerap meminta kepada Allah, maka sesungguhnya ia adalah perkara yang paling disukai-NYA. Jadi, banyakkan meminta kepada Allah Azza wajjalla. Insya Allah anda tak kan kecewa. Wallahu'alam.
Beberapa hari lepas saya mendapat email dari seorang rakan yang juga lecturer di tanah seberang. Tajuknya: mengeluh. Dari email itu saya bersetuju dengan beberapa perkara:
1. manusia adalah insan yang selalu mengeluh. Benda kecil pun dia boleh berkeluh kesah. Cuma bezanya, bagi yang beriman keluhan itu akan terlahir dalam ungkapan dzikrullah baik secara lisan, dengan hati ataupun perbuatan. Bagi yang tak beriman pula, keluhan justru dianggap sebagai subjek untuk bergosip dan menyalahkan pihak lain. Tak terdaya membalas dengan tangan, dengan mulut pun jadilah. Lebih kurang begitulah jadinya.
2. Keluhan sepatutnya menjana kesyukuran. Mengapa? Kerana sebagai insan adakalanya kita terlupa pada sang pencipta. Ingat dikala kita susah tapi melupakan DIA dikala bergelimang kesenangan.
Masalah yang kita hadapi boleh juga merupakan satu kafarah atas dosa-dosa kita. Tak kisahlah dosa apa yang pernah kita lakukan, tapi sesungguhnya masalah menjadikan kita sedar bahwa roda kehidupan tak selalu diatas, sebab adakalanya ia pun di bawah. Ketika berada di atas janganlah kita asyik nak pijak orang. Sebab boleh jadi kesudahannya di satu masa yang lain orang lain pula yang akan "melenyekkan" kita.
Apapun masalah di depan mata hendaklah dicari punca dan jalan penyelesaiannya dengan hati tenang. Ibarat kata pepatah: biar hati panas, kepala tetap dingin". Adakalanya masalah tidak dapat diselesaikan sendiri. Kita perlukan bantuan pihak lain. Tapi ingat bukan semua orang boleh membantu kita. Sebab adakalanya orang yang diharap membantu malah menjadi batu api dan menyemarakkan lagi masalah sedia ada. Carilah orang yang dipercayai keimanannya dan amanah.
Pada akhirnya, sebagai muslim kita mesti kembali kepada Allah. Ia adalah Pencipta kita, tentu Ia lebih tahu dan Maha Tahu segala kesusahan yang kita alami. Kalau kerap meminta pada manusia, tentu pada satu masa ia akan jemu memberi kita. Tapi kalau kerap meminta kepada Allah, maka sesungguhnya ia adalah perkara yang paling disukai-NYA. Jadi, banyakkan meminta kepada Allah Azza wajjalla. Insya Allah anda tak kan kecewa. Wallahu'alam.
Melayukah Kita?
Tentu anda pernah dengar istilah “gadis Melayu terakhir”. Rasanya agak susah nak percaya kalau ianya masih wujud. Itu pendapat saya. Mengapa? Kerana sekarang ini kita seakan sudah tidak mengenal dan tidak pasti lagi bagaimana sebenarnya identity melayu itu. Apakah seseorang itu dianggap Melayu jika beragama Islam ? Apakah seseorang itu dianggap Melayu kerana hari-hari pakai baju kedah dan kain batik? Apakah seseorang itu dianggap Melayu apabila hanya reti bertutur dalam bahasa Melayu dan tidak mahu berbahasa asing? Apakah dianggap Melayu seseorang yang masih percayakan praktik perbomohan ?
Teringat lagi saya dengan sebuah Program TV3 bertajuk Ketupat Rendang Kanggguru. Dalam program itu dan ada beberapa program serupa yang saya tak berapa ingat tajuknya, dipaparkan kegigihan Melayu di tanah rantau dalam mengekalkan identity kemelayuannya. Yang paling manis adalah apabila mereka menghantar anak-anak mereka belajar bahasa Melayu. Tentu terbalik situasinya dengan di negara ini kan?
Pada pendapat saya paling sedikit ada 3 faktor utama yang membuat melayu di luar Negara berusaha mengekalkan identity melayunya:
1.Adanya ikatan kekeluargaan yang masih terlalu kuat dengan keluarga dan rakan handai di Malaysia. Ikatan itu akan masih dirasakan lebih kuat apabila para “orang-orang tua” seperti Tok, Nenek, masih hidup lagi.
2.Adanya perasaan “asing” di Negara orang lain kerana itu bersatu dengan melayu lain dianggap lebih banyak memberi faedah kerana dengan demikian ada rasa kebersamaan dan tidak merasa sebagai komuniti minority di Negara orang.
3.Adanya keinginan supaya anak cucu keturunan mereka kelak mengetahui asal-usul sebenar mereka dan tak kiralah mereka akan kembali ke Malaysia satu hari nanti atau pun tidak, mereka akan merasa bangga dan tidak merasa asing untuk bercampur gaul dengan kaum Melayu di Malaysia atau di serata dunia.
Bagaimana pula melayu dalam Negara ini? Sudahkah anda temukan setidaknya satu sebab mengapa anda bangga menjadi Melayu dan mengapa anak ingin kekal sebagai Melayu?
Kalau anda dr Sheikh Muszaphar mungkin anda akan mendabik dada dan bangga mengaku sebagai Melayu kerana menjadi Melayu pertama yang pergi ke angkasa lepas. (Walaupun saya tahu dan anda semua tahu yang beliau takkan menjadi angkuh kerananya)
Kalau anda Tunku Abdul Rahman mungkin anda akan bangga mengaku sebagai Melayu kerana menjadi Perdana Menteri Pertama Malaysia dan Melayu terhormat bukan sahaja di Malaysia tapi juga antarbangsa.(Walaupun kita semua tahu beliau terlalu zuhud dan mulia untuk menjadi sombong kerananya)
Bagaimana pula dengan kita sekarang? Patutkah kita bangga menjadi pelajar Melayu kerana kalau jadi pelajar Melayu boleh sepak terajang cikgu sekolah? Patutkah kita bangga menjadi artis Melayu kerana kalau artis melayu yang tayang dada dan paha mesti film laku terjual?
Semua soalan itu pada akhirnya hanya anda sendiri yang boleh menjawab. Wallahu’alam.
Teringat lagi saya dengan sebuah Program TV3 bertajuk Ketupat Rendang Kanggguru. Dalam program itu dan ada beberapa program serupa yang saya tak berapa ingat tajuknya, dipaparkan kegigihan Melayu di tanah rantau dalam mengekalkan identity kemelayuannya. Yang paling manis adalah apabila mereka menghantar anak-anak mereka belajar bahasa Melayu. Tentu terbalik situasinya dengan di negara ini kan?
Pada pendapat saya paling sedikit ada 3 faktor utama yang membuat melayu di luar Negara berusaha mengekalkan identity melayunya:
1.Adanya ikatan kekeluargaan yang masih terlalu kuat dengan keluarga dan rakan handai di Malaysia. Ikatan itu akan masih dirasakan lebih kuat apabila para “orang-orang tua” seperti Tok, Nenek, masih hidup lagi.
2.Adanya perasaan “asing” di Negara orang lain kerana itu bersatu dengan melayu lain dianggap lebih banyak memberi faedah kerana dengan demikian ada rasa kebersamaan dan tidak merasa sebagai komuniti minority di Negara orang.
3.Adanya keinginan supaya anak cucu keturunan mereka kelak mengetahui asal-usul sebenar mereka dan tak kiralah mereka akan kembali ke Malaysia satu hari nanti atau pun tidak, mereka akan merasa bangga dan tidak merasa asing untuk bercampur gaul dengan kaum Melayu di Malaysia atau di serata dunia.
Bagaimana pula melayu dalam Negara ini? Sudahkah anda temukan setidaknya satu sebab mengapa anda bangga menjadi Melayu dan mengapa anak ingin kekal sebagai Melayu?
Kalau anda dr Sheikh Muszaphar mungkin anda akan mendabik dada dan bangga mengaku sebagai Melayu kerana menjadi Melayu pertama yang pergi ke angkasa lepas. (Walaupun saya tahu dan anda semua tahu yang beliau takkan menjadi angkuh kerananya)
Kalau anda Tunku Abdul Rahman mungkin anda akan bangga mengaku sebagai Melayu kerana menjadi Perdana Menteri Pertama Malaysia dan Melayu terhormat bukan sahaja di Malaysia tapi juga antarbangsa.(Walaupun kita semua tahu beliau terlalu zuhud dan mulia untuk menjadi sombong kerananya)
Bagaimana pula dengan kita sekarang? Patutkah kita bangga menjadi pelajar Melayu kerana kalau jadi pelajar Melayu boleh sepak terajang cikgu sekolah? Patutkah kita bangga menjadi artis Melayu kerana kalau artis melayu yang tayang dada dan paha mesti film laku terjual?
Semua soalan itu pada akhirnya hanya anda sendiri yang boleh menjawab. Wallahu’alam.
Tuesday, October 21, 2008
Generasi Kita: ke mana hala tujunya?
Buka mata di awal pagi, perkara pertama yang kebanyakannya orang nak tahu adalah politik, ekonomi dan hiburan. Perkara lain seperti soal agama, jenayah dan sosial, ibarat "perencah" dalam kehidupan.
Saya tak berapa pasti apakah saya seorang yang perasan atau anda pun merasakannya, kebelakangan ini program tv kita kebanyakannya lebih menonjolkan unsur-unsur yang terlalu "duniawi". Rancangan reality umpamanya lebih tertumpu pada aspek seperti menyanyi dan menari. Bahkan ada pula program reality khas seumpama itu yang dikhas kan untuk budak-budak sahaja.
Mari kita renungkan sebenarnya siapa yang menjadi punca. Adakah pihak TV yang sengaja mencipta rancangan sedemikian hanya untuk mengaut keuntungan ataukah memang masyarakat kita "terlalu" gemarkan rancangan yang sedemikian rupa.
Tengok saja beberapa rancangan seperti Mari mengaji, Mari Bertaranum, Akademi Al Quran dan sejenisnya, walaupun mendapat rating dan sambutan yang cukup hangat dari penonton segenap lapisan, tetap saja ianya "kalah" jika dibandingan dengan rancangan yang berunsurkan nyanyian dan tarian.
Memanglah tidak dinafikan bahwa kita sebagai manusia adakalanya menginginkan hiburan, hiburan yang halal dan tidak haram di sisi Allah tentunya. Tapi tidakkah kita dianggap sudah terlalu "keterlaluan" jika menghalakan generasi kita hanya pada dunia hiburan semata-mata? Kita seakan-akan lebih suka tengok anak-anak kita menyanyi memekik-mekik lagu -lagu dari penyanyi kegemaran mereka tapi segera mengecilkan volume TV apabila adzan dikumandangkan.
Yang paling menyedihkan, adapula ibu bapa yang menganggap anak-anak yang tak berapa terdedah dengan dunia menyanyi dan menari sebagai golongan yang tak reti bersosial dan terbelakang alias tidak modern.
Kalau dah semua nak "terjun" dalam dunia menyanyi dan menari, lalu siapa pula yang akan menjadi politisi negara ini kelak? siapa pula yang akan meneruskan tradisi ekonomi maju di kemudian hari? siapa pula yang akan menjadi pendakwah yang tak jemu-jemunya menyeru ke arah kebaikan? siapa pula yang akan menjadi teknokrat ulung untuk negara ini? Apakah mereka semua ini dianggap tidak modern kerana tak reti menyanyi dan menari?
Bukanlah saya anti dunia hiburan, tapi kalau boleh, marilah kita bimbing anak-anak kita, generasi muda negara ini, bahwa ada banyak lagi dunia yang perlu diterokai. Kalau dah ada orang yang terbang sampai ke angkasa lepas, mengapa tidak, kelak mereka pula yang menjadi rakyat pertama negara ini yang menjejakkan kakinya di bulan? Kalau negara lain sudah pun mampu membangunkan teknologi nuklear, mengapa tidak, kelak mereka pun mampu menjana kuasa nuklear setara atau bahkan lebih maju dari negara-negara lain yang sudah pun memilikinya? Kalau ramai pendakwah "dilahirkan" dari negara Mesir yang terkenal dengan Ikhwanul Musliminnya, kenapa tidak, kelak mereka pula yang menjadi pendakwah berkaliber di seluruh penjuru dunia?
Hidup ini hendaklah kita sempurnakan dengan adil. Ada kalanya hidup memerlukan hiburan. Tapi tak semestinya hiburan menjadi hidup kita. Wallahu'alam.
Saya tak berapa pasti apakah saya seorang yang perasan atau anda pun merasakannya, kebelakangan ini program tv kita kebanyakannya lebih menonjolkan unsur-unsur yang terlalu "duniawi". Rancangan reality umpamanya lebih tertumpu pada aspek seperti menyanyi dan menari. Bahkan ada pula program reality khas seumpama itu yang dikhas kan untuk budak-budak sahaja.
Mari kita renungkan sebenarnya siapa yang menjadi punca. Adakah pihak TV yang sengaja mencipta rancangan sedemikian hanya untuk mengaut keuntungan ataukah memang masyarakat kita "terlalu" gemarkan rancangan yang sedemikian rupa.
Tengok saja beberapa rancangan seperti Mari mengaji, Mari Bertaranum, Akademi Al Quran dan sejenisnya, walaupun mendapat rating dan sambutan yang cukup hangat dari penonton segenap lapisan, tetap saja ianya "kalah" jika dibandingan dengan rancangan yang berunsurkan nyanyian dan tarian.
Memanglah tidak dinafikan bahwa kita sebagai manusia adakalanya menginginkan hiburan, hiburan yang halal dan tidak haram di sisi Allah tentunya. Tapi tidakkah kita dianggap sudah terlalu "keterlaluan" jika menghalakan generasi kita hanya pada dunia hiburan semata-mata? Kita seakan-akan lebih suka tengok anak-anak kita menyanyi memekik-mekik lagu -lagu dari penyanyi kegemaran mereka tapi segera mengecilkan volume TV apabila adzan dikumandangkan.
Yang paling menyedihkan, adapula ibu bapa yang menganggap anak-anak yang tak berapa terdedah dengan dunia menyanyi dan menari sebagai golongan yang tak reti bersosial dan terbelakang alias tidak modern.
Kalau dah semua nak "terjun" dalam dunia menyanyi dan menari, lalu siapa pula yang akan menjadi politisi negara ini kelak? siapa pula yang akan meneruskan tradisi ekonomi maju di kemudian hari? siapa pula yang akan menjadi pendakwah yang tak jemu-jemunya menyeru ke arah kebaikan? siapa pula yang akan menjadi teknokrat ulung untuk negara ini? Apakah mereka semua ini dianggap tidak modern kerana tak reti menyanyi dan menari?
Bukanlah saya anti dunia hiburan, tapi kalau boleh, marilah kita bimbing anak-anak kita, generasi muda negara ini, bahwa ada banyak lagi dunia yang perlu diterokai. Kalau dah ada orang yang terbang sampai ke angkasa lepas, mengapa tidak, kelak mereka pula yang menjadi rakyat pertama negara ini yang menjejakkan kakinya di bulan? Kalau negara lain sudah pun mampu membangunkan teknologi nuklear, mengapa tidak, kelak mereka pun mampu menjana kuasa nuklear setara atau bahkan lebih maju dari negara-negara lain yang sudah pun memilikinya? Kalau ramai pendakwah "dilahirkan" dari negara Mesir yang terkenal dengan Ikhwanul Musliminnya, kenapa tidak, kelak mereka pula yang menjadi pendakwah berkaliber di seluruh penjuru dunia?
Hidup ini hendaklah kita sempurnakan dengan adil. Ada kalanya hidup memerlukan hiburan. Tapi tak semestinya hiburan menjadi hidup kita. Wallahu'alam.
Friday, October 10, 2008
Dunia Herba Kita
Semalam kami sekeluarga menerima kedatangan beberapa orang anak muda yang baru berjinak-jinak dengan dunia herba. Dalam sembang-sembang itu salah seorang bertanya kepada saya,"kak ni herbalist kah?". Alahai, terkejutnya saya, agaknya terlalu banyak "petua" yang saya berikan. Hehehe...........
Kebelakangan ini dunia herba semakin mendapat perhatian. Ramai yang mula "menceburkan" diri dalam bidang yang dulunya hanya dianggap sebagai "mainan" bomoh kampung. Bahkan dunia barat sendiri sudah mula beralih pandangan dalam bidang ini. Mereka pun sebenarnya mempunyai keunikan herba tersendiri yang berkenaan dengan sistem cuaca dan 4 musim di sana. Sayangnya, herba di dunia barat dianggap something Asian. Maksudnya herba lebih dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari Asia sahaja. Rasa macam tak percaya pula kalau ada yang kata orang Barat punya pengobatan ala herba. Tapi, kelemahan dunia barat sudah semestinya akan menjadi nilai lebih yang menguntungkan Asia tentunya.
Tapi sekadar mengingatkan, menjadi seorang herbalist bukanlah sesuatu yang mudah. Sekali anda sendiri atau orang lain mengiktiraf anda sebagai seorang herbalist, tak kiralah dengan cara apapun, hakikatnya sukar untuk anda berundur. Sekali memulakan maka susahlah pula untuk menyudahinya. Mengapa? Sebab tanpa anda sedari atau tidak, anda perasan kah tidak, ada nyawa insan lain yang menjadi taruhan. Cuba anda bayangkan, seandainya seseorang yang sedang merasa kesakitan yang teramat sangat datang kepada anda dengan harapan anda boleh mengobatinya lalu anda tersilap memberi herba atau herba yang diberi hanya memberi kesan singkat atau bahkan herba yang diberi justru menambah parah penyakit sedia ada, dimanakah tanggung jawab anda? Minta maaf saja takkan mencukupi. Bukan setakat nyawa sang pesakit menjadi taruhan , tapi juga maruah anda dan kepercayaan orang kepada anda akan tercalar.
Memanglah, kalau nak tengok testimoni kejayaan orang-orang yang berjaya diobati tentu rasa seronok, dan mungkin juga bangga. Tetapi langit tak selalu cerah. Seorang herbalist mesti sedar bahwa dia bukan Tuhan, Ia hanya insan biasa yang cuba mengobati bukan menyembuhkan. Kuasa menyembuhkan ada di Tangan Tuhan. Di sinilah letak KEIMANAN dan KEIKHLASAN.
Keimanan akan menjadi pencetus ikhlas tidaknya seorang herbalist dan pada masa yang sama keikhlasan adalah tolok ukur keimanan sesorang herbalist yang hanya boleh dilihat oleh Allah SWT.
Dulu dunia herba pernah dianggap sebagai suatu "alternatif", bukan pilihan utama. dalam bahasa kasar, tak da kerja lain boleh buat, terpaksa buat ini lah..............". Tapi sekarang ramai yang mula melihat herba sebagai sesuatu yang profitable. Bahkan ramai pula yang menganggapnya "terlalu mudah" untuk dibuat.
Hakikatnya, ada 3 perkara yang perlu anda timbang semula jika anda berniat bergabung dalam dunia herba; yaitu MINAT,BAKAT dan KEBERANIAN.
Ibarat rancangan reality, seorang yang berminat menyanyi tak semestinya mempunyai bakat dalam nyanyian, apatah lagi keberanian. Seorang yang berbakat dan mempunyai keberanian menyanyi di depan khalayak ramai, tak semestinya berminat untuk menjadikan menyanyi sebagai karier. Seorang yang hanya bermodalkan keberanian, langsung tak ada bakat dan minat, mesti kena "halau" oleh para juri. Begitulah pula dengan dunia herba, tak semestinya minat, bakat dan keberanian boleh membawa anda ke puncak kejayaan. Memanglah ramai usahawan muda yang lahir dari dunia herba. Bukan setakat mampu beli 2 biji kereta Mercedes tapi mampu juga punya banglo mewah. Tapi hakikatnya tidaklah semudah itu. Ramai juga yang akhirnya menemui kegagalan kerana ada satu lagi faktor penentu yaitu NASIB. Secara matematik memanglah peratusnya sangat kecil, tapi ianya mempunyai impak yang besar, sebab ia berhubung kait dengan QADA dan QADAR .
Apa yang hendak saya sampaikan di sini adalah, apapun bidang yang menjadi pilihan anda, hendaklah anda teliti betul-betul dan nilailah diri sendiri. Untuk itu anda memerlukan orang yang mampu menjadi guru yang bersahabat dan juga menjadi sahabat yang mampu menjadi guru terbaik bagi diri anda. Janganlah anda terlibat dalam bidang yang anda sendiri meraguinya atau terjun dalam bidang itu hanya semata-mata nilai materialnya sahaja. Sebab bimbanglah nanti di saat "angin" mengguncang "pokok" pilihan anda, anda tak tahu sama ada hendak tetap "berteduh" di bawahnya atau "tebang" saja pokok tu lalu mencari pokok lain untuk berlindung. Wallahu'lam.
Kebelakangan ini dunia herba semakin mendapat perhatian. Ramai yang mula "menceburkan" diri dalam bidang yang dulunya hanya dianggap sebagai "mainan" bomoh kampung. Bahkan dunia barat sendiri sudah mula beralih pandangan dalam bidang ini. Mereka pun sebenarnya mempunyai keunikan herba tersendiri yang berkenaan dengan sistem cuaca dan 4 musim di sana. Sayangnya, herba di dunia barat dianggap something Asian. Maksudnya herba lebih dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari Asia sahaja. Rasa macam tak percaya pula kalau ada yang kata orang Barat punya pengobatan ala herba. Tapi, kelemahan dunia barat sudah semestinya akan menjadi nilai lebih yang menguntungkan Asia tentunya.
Tapi sekadar mengingatkan, menjadi seorang herbalist bukanlah sesuatu yang mudah. Sekali anda sendiri atau orang lain mengiktiraf anda sebagai seorang herbalist, tak kiralah dengan cara apapun, hakikatnya sukar untuk anda berundur. Sekali memulakan maka susahlah pula untuk menyudahinya. Mengapa? Sebab tanpa anda sedari atau tidak, anda perasan kah tidak, ada nyawa insan lain yang menjadi taruhan. Cuba anda bayangkan, seandainya seseorang yang sedang merasa kesakitan yang teramat sangat datang kepada anda dengan harapan anda boleh mengobatinya lalu anda tersilap memberi herba atau herba yang diberi hanya memberi kesan singkat atau bahkan herba yang diberi justru menambah parah penyakit sedia ada, dimanakah tanggung jawab anda? Minta maaf saja takkan mencukupi. Bukan setakat nyawa sang pesakit menjadi taruhan , tapi juga maruah anda dan kepercayaan orang kepada anda akan tercalar.
Memanglah, kalau nak tengok testimoni kejayaan orang-orang yang berjaya diobati tentu rasa seronok, dan mungkin juga bangga. Tetapi langit tak selalu cerah. Seorang herbalist mesti sedar bahwa dia bukan Tuhan, Ia hanya insan biasa yang cuba mengobati bukan menyembuhkan. Kuasa menyembuhkan ada di Tangan Tuhan. Di sinilah letak KEIMANAN dan KEIKHLASAN.
Keimanan akan menjadi pencetus ikhlas tidaknya seorang herbalist dan pada masa yang sama keikhlasan adalah tolok ukur keimanan sesorang herbalist yang hanya boleh dilihat oleh Allah SWT.
Dulu dunia herba pernah dianggap sebagai suatu "alternatif", bukan pilihan utama. dalam bahasa kasar, tak da kerja lain boleh buat, terpaksa buat ini lah..............". Tapi sekarang ramai yang mula melihat herba sebagai sesuatu yang profitable. Bahkan ramai pula yang menganggapnya "terlalu mudah" untuk dibuat.
Hakikatnya, ada 3 perkara yang perlu anda timbang semula jika anda berniat bergabung dalam dunia herba; yaitu MINAT,BAKAT dan KEBERANIAN.
Ibarat rancangan reality, seorang yang berminat menyanyi tak semestinya mempunyai bakat dalam nyanyian, apatah lagi keberanian. Seorang yang berbakat dan mempunyai keberanian menyanyi di depan khalayak ramai, tak semestinya berminat untuk menjadikan menyanyi sebagai karier. Seorang yang hanya bermodalkan keberanian, langsung tak ada bakat dan minat, mesti kena "halau" oleh para juri. Begitulah pula dengan dunia herba, tak semestinya minat, bakat dan keberanian boleh membawa anda ke puncak kejayaan. Memanglah ramai usahawan muda yang lahir dari dunia herba. Bukan setakat mampu beli 2 biji kereta Mercedes tapi mampu juga punya banglo mewah. Tapi hakikatnya tidaklah semudah itu. Ramai juga yang akhirnya menemui kegagalan kerana ada satu lagi faktor penentu yaitu NASIB. Secara matematik memanglah peratusnya sangat kecil, tapi ianya mempunyai impak yang besar, sebab ia berhubung kait dengan QADA dan QADAR .
Apa yang hendak saya sampaikan di sini adalah, apapun bidang yang menjadi pilihan anda, hendaklah anda teliti betul-betul dan nilailah diri sendiri. Untuk itu anda memerlukan orang yang mampu menjadi guru yang bersahabat dan juga menjadi sahabat yang mampu menjadi guru terbaik bagi diri anda. Janganlah anda terlibat dalam bidang yang anda sendiri meraguinya atau terjun dalam bidang itu hanya semata-mata nilai materialnya sahaja. Sebab bimbanglah nanti di saat "angin" mengguncang "pokok" pilihan anda, anda tak tahu sama ada hendak tetap "berteduh" di bawahnya atau "tebang" saja pokok tu lalu mencari pokok lain untuk berlindung. Wallahu'lam.
Thursday, October 9, 2008
Pra - Pasca
Bertemu kembali dalam blog ini. Semoga anda semua berada dalam lindungan Allah SWT. Masih dalam bulan syawal ini, saya dan keluarga mengucapkan SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI. MAAF ZAHIR DAN BATHIN kepada anda semua.
Pejam celik, pejam celik, berlalu lah sudah bulan ramadhan, dan dalam masa yang tak berapa lama lagi akan berlalu lah pula bulan syawal yang mulia ini. Teringat saya akan gurauan beberapa rakan "duit raya pun habis dah........."
Sekadar mengimbau kembali "kenangan", ketika mula-mula berpuasa, ramai yang complain senak perut, cirit-birit dan "tak larat"kerana dah lama tak sahur atau dah lama tak berpuasa. Tapi ketika raya pula, complain pun sama tapi penyebabnya ialah terlalu banyak makan, dah terbiasa puasa atau dah biasa makan awal/sahur.
Ketika bulan ramadhan pula, ramai yang memulakan azzam ibadah yang luar biasa, mula dari buka puasa kat masjid, tarawih hinggalah takbir raya. Tapi melangkah saja ke hari raya, habislah pula azzam tu. Tak sholat alasannya "letih" beraya.
Apapun, manis tidaknya bulan ramadan tahun ini, anda sendiri yang boleh menilainya. Kemanisan itu boleh bermacam-macam bentuknya. Bagi sesetengah orang, kemanisan bulan puasa adalah apabila bersahur dan berbuka puasa bersama seiisi keluarga. Adapula yang menganggapnya manis apabila banyak jemputan ifthar.
Bagaimana mengekalkan kemanisan itu hingga ke ramadhan tahun hadapan, itu hanya anda sendiri yang tahu. Yang penting, hidup ini semestinya semakin bertambah baik dan berkualiti. Marilah kita jadikan bulan ramadhan dan syawal ini sebagai platform untuk berjaya di dunia dan di akhirat. Wallahu'alam.
Pejam celik, pejam celik, berlalu lah sudah bulan ramadhan, dan dalam masa yang tak berapa lama lagi akan berlalu lah pula bulan syawal yang mulia ini. Teringat saya akan gurauan beberapa rakan "duit raya pun habis dah........."
Sekadar mengimbau kembali "kenangan", ketika mula-mula berpuasa, ramai yang complain senak perut, cirit-birit dan "tak larat"kerana dah lama tak sahur atau dah lama tak berpuasa. Tapi ketika raya pula, complain pun sama tapi penyebabnya ialah terlalu banyak makan, dah terbiasa puasa atau dah biasa makan awal/sahur.
Ketika bulan ramadhan pula, ramai yang memulakan azzam ibadah yang luar biasa, mula dari buka puasa kat masjid, tarawih hinggalah takbir raya. Tapi melangkah saja ke hari raya, habislah pula azzam tu. Tak sholat alasannya "letih" beraya.
Apapun, manis tidaknya bulan ramadan tahun ini, anda sendiri yang boleh menilainya. Kemanisan itu boleh bermacam-macam bentuknya. Bagi sesetengah orang, kemanisan bulan puasa adalah apabila bersahur dan berbuka puasa bersama seiisi keluarga. Adapula yang menganggapnya manis apabila banyak jemputan ifthar.
Bagaimana mengekalkan kemanisan itu hingga ke ramadhan tahun hadapan, itu hanya anda sendiri yang tahu. Yang penting, hidup ini semestinya semakin bertambah baik dan berkualiti. Marilah kita jadikan bulan ramadhan dan syawal ini sebagai platform untuk berjaya di dunia dan di akhirat. Wallahu'alam.
Subscribe to:
Posts (Atom)